GAYA KEPEMIMPINAN ADAPTIF SEBAGAI KATALISATOR PERUBAHAN POLRI
I MADE SUARMA, S.H., S,I,K., M.H.
NO SERDIK. 202601002091
POKJAR II (DUA)
PENDAHULUAN
Perkembangan lingkungan strategis
global yang ditandai oleh dinamika VUCA (Volatility, Uncertainty,
Complexity, Ambiguity) yang kemudian bertransformasi menjadi kondisi BANI (Brittle,
Anxious, Non-linear, Incomprehensible) menuntut organisasi modern, termasuk
Polri, untuk melakukan perubahan secara fundamental, dikarenakan adanya tantangan
keamanan yang tidak lagi bersifat konvensional, melainkan multidimensional,
melibatkan aktor lintas sektor, serta dipengaruhi oleh percepatan teknologi
informasi.
Dalam konteks tersebut, Polri
tidak hanya dituntut meningkatkan kapasitas operasional, tetapi juga melakukan
transformasi organisasi dan kepemimpinan. Oleh sebab itu gaya kepemimpinan
adaptif dirasakan sangat cocok untuk menjadi elemen kunci dalam menjawab
kompleksitas tersebut, karena kemampuan adaptifnya dalam mengintegrasikan
fleksibilitas, inovasi, serta responsivitas dalam menghadapi perubahan. Berdasarkan
hal tersebut, maka tulisan ini akan menganalisis dua persoalan utama yang
mempengaruhi adaptive leadership pada organisasi Polri, yaitu strategi
perubahan organisasi Polri di era VUCA–BANI dan pembentukan karakter
kepemimpinan dalam mendukung transformasi kelembagaan.
PEMBAHASAN
PERSOALAN 1: ANALISIS DAN STRATEGI PERUBAHAN
ORGANISASI POLRI DI ERA VUCA-BANI
FENOMENA EMPIRIS: RENDAHNYA KEPERCAYAAN SEBAGAI INDIKATOR
KEGAGALAN ADAPTASI
Era VUCA menggambarkan lingkungan
yang bergejolak, namun tantangan kontemporer kini lebih akurat didefinisikan
melalui kerangka BANI. Sifat Brittle (rapuh) menunjukkan bahwa sistem
keamanan yang terlihat kokoh bisa runtuh seketika akibat disrupsi informasi. Anxious
(cemas) merefleksikan kondisi psikologis masyarakat yang menuntut respons cepat
dan empati dari aparat, namun hal ini tidak mereka dapatkan dari Polri.
Fenomena utama
yang relevan adalah krisis kepercayaan publik terhadap Polri. Namun, secara
analitis, krisis ini bukan sebab, melainkan gejala (symptom) dari
masalah yang lebih dalam, diantaranya tingginya pelanggaran etika oleh anggota
Polri, yaitu 9.817 kasus dalam periode tahun 2025, hal ini mengindikasikan lemahnya
kontrol internal, kemudian penurunan kepercayaan dari generasi milenial dan Gen
Z menandakan adanya kegagalan komunikasi institusional serta kenyataan bahwa reformasi
yang “berhenti di permukaan” mengindikasikan adanya dominasi perubahan
struktural dibanding kultural.
Kondisi ini
menunjukkan bahwa Polri menghadapi “adaptive failure”, yaitu kegagalan
organisasi dalam membaca perubahan lingkungan dan menyesuaikan diri secara
sistemik. Reformasi yang dilakukan cenderung bersifat teknokratis (procedural
reform), bukan transformasional (behavioral and cultural reform).
VUCA–BANI SEBAGAI REALITAS
OPERASIONAL POLRI
Jika dianalisis lebih dalam, fenomena “adaptive failure” Polri
sangat relevan dengan karakteristik VUCA–BANI, diantaranya Volatility / Brittleness,
dimana kasus viral yang cepat mengubah opini publik (era media sosial), Uncertainty
/ Anxiety, yaitu adanya ketidakpastian legitimasi hukum akibat distrust
publik terhadap Polri, Complexity / Nonlinearity, yaitu
perkembangan kejahatan modern (cybercrime, transnasional) dengan multi-aktor
yang sulit dilacak, dan Ambiguity / Incomprehensibility, dimana Informasi
bisa menjadi bias, adanya framing media, dan disinformasi yang
menyesatkan.
Fakta bahwa bahkan internal Polri mengakui dinamika VUCA sebagai
tantangan utama menunjukkan bahwa organisasi berada dalam tekanan lingkungan
yang eksponensial
ANALISIS AKAR MASALAH
Jika ditarik lebih mendalam, terdapat tiga akar masalah utama, masih
terhambatnya implementasi gaya kepemimpinan adaptif di internal Polri,
diantaranya
1. Structural
Lag (Keterlambatan Struktural), dimana struktur organisasi Polri
masih hierarkis, karena masih ada resistensi dan lambat merespons dinamika
lapangan.
2. Cultural
Inertia (Inersia Budaya), dimana budaya kepatuhan (patuh
terhadap pimpinan) lebih dominan dibanding budaya kinerja (performance
culture).
3. Leadership
Gap, yaitu kondisi kepemimpinan yang belum sepenuhnya adaptif,
sehingga masih berorientasi kontrol, bukan empowerment (pemberdayaan).
STRATEGI PERUBAHAN: DARI
REFORMASI KE TRANSFORMASI ADAPTIF
1.
Transformasi Struktur Organisasi, dengan mendorong
desentralisasi kewenangan operasional dan membentuk unit kerja berbasis fungsi
adaptif (task force berbasis isu)
2.
Penerapan Agile Governance, sehingga setiap pengambilan
keputusan berbasis data (data-driven policing) dan lebih fleksibel dalam
perencanaan dan evaluasi program
3.
Digitalisasi dan Integrasi Sistem, melalui penguatan
sistem informasi terintegrasi (big data, AI) sehingga pelayanan publik berbasis
digital lebih optimal.
4.
Penguatan Budaya Organisasi, dengan membangun
budaya inovatif, kolaboratif, dan responsif serta menginternalisasikan nilai
PRESISI sebagai core values.
5.
Manajemen Risiko Strategis, dengan penerapan
risk-based policing sehingga dapat mengansitipasi setiap ancaman Kamtibmas
berbasis intelijen prediktif
PERSOALAN 2: PEMBENTUKAN KARAKTER
KEPEMIMPINAN POLRI DALAM TRANSFORMASI KELEMBAGAAN
FENOMENA : REFORMASI
STRUKTURAL YANG BELUM DIIKUTI TRANSFORMASI KEPEMIMPINAN
Reformasi Polri dimulai sejak
tahun 1998, seiring dengan momentum Reformasi 1998. Titik penting berikutnya
adalah pemisahan Polri dari Tentara Nasional Indonesia pada tahun 1999–2000,
yang menandai perubahan fundamental dari institusi militeristik menjadi sipil. Sehingga reformasi Polri telah berlangsung
selama 27 tahun. Namun, durasi panjang tersebut tidak otomatis berbanding lurus
dengan kedalaman transformasi, khususnya pada aspek kepemimpinan, karena sejak
awal reformasi Polri cenderung berfokus pada perubahan regulasi, penataan
kelembagaan dan pembentukan sistem pengawasan, sedangkan transformasi
kepemimpinan berada pada aspek kultural dan psikologis, sehingga lebih sulit
diukur, membutuhkan waktu yang sangat Panjang dan tidak bisa dipaksakan melalui
regulasi. Berdasarkan hal tersebut,
maka munculah suatu fenomena yang menggambarkan adanya ketidaksinkronan antara
perubahan pada aspek formal organisasi dengan perubahan pada aspek perilaku
kepemimpinan. Dalam konteks Polri, reformasi telah banyak menyentuh dimensi
struktural—seperti pembentukan regulasi baru, penataan organisasi, digitalisasi
layanan, hingga penguatan sistem pengawasan—namun belum sepenuhnya diikuti oleh
transformasi pola pikir dan perilaku pemimpin di lapangan.
KEPEMIMPINAN ADAPTIF SEBAGAI
JAWABAN ATAS TANTANGAN SISTEMIK
Tantangan yang dihadapi Polri
tidak lagi bersifat parsial atau insidental, melainkan telah berkembang menjadi
tantangan sistemik, yaitu kondisi di mana permasalahan terjadi secara
terstruktur, berulang, dan saling terkait antar komponen organisasi, sehingga
apabila terus berulang, maka dapat menyebabkan krisis. Adapun krisis ini bukan
sekadar akibat kesalahan individu, tetapi merupakan hasil dari interaksi antara
struktur, budaya, dan kepemimpinan yang belum selaras.
Berdasarkan hal tersebut, maka
kepemimpinan adaptif menjadi jawaban atas tantangan sistemik Polri, dimana
kepemimpinan adaptif memiliki fungsi strategis, sebagai Managing Distrust,
yaitu kondisi dimana pemimpin mampu mengelola krisis kepercayaan, bukan hanya sekadar
merespons kritik, pemimpin mampu mengatasi kekakuan birokrasi dengan menciptakan
ruang inovasi dalam struktur yang rigid dan menjadi pengelola kompleksitas,
sehingga mampu mengambil keputusan dalam ketidakpastian.
PEMBENTUKAN KARAKTER
KEPEMIMPINAN: DARI POWER-ORIENTED KE VALUE-ORIENTED
Transformasi dari power-oriented
ke value-oriented leadership merupakan prasyarat utama dalam membangun
organisasi yang adaptif, kredibel, dan berorientasi pada pelayanan publik,
karena kepemimpinan yang efektif di era modern bukan lagi ditentukan oleh
seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, tetapi oleh seberapa kuat nilai yang
dijalankan dan dirasakan oleh anggota organisasi serta masyarakat, sehingga
transformasi karakter harus mengarah pada keberanian moral, dimana pimpinan
berani mengambil keputusan yang tidak populer, mampu berpikir sistem agar dapat
memahami keterkaitan antar variabel, memiliki empati tinggi sehingga menjawab
kritik publik dengan pendekatan yang humanis seta memiliki kecerdasan adaptif
dalam membaca perubahan secara cepat.
Pembentukan karakter ini
merupakan hal yang urgent, karena fenomena tuntutan publik terhadap
transparansi dan empati menunjukkan bahwa kepemimpinan Polri tidak bisa lagi
berbasis kekuasaan, tetapi harus berbasis nilai.
STRATEGI PEMBENTUKAN : DARI
DIKLAT KE EXPERIENTAL LEADERSHIP
a.
Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Berbasis
Kompetensi dengan kurikulum berbasis problem solving dan critical
thinking serta simulasi kasus nyata (case-based learning).
b.
Coaching dan mentoring dengan
memaksimalkan pendampingan oleh senior dalam pengambilan keputusan strategis serta
transfer nilai dan pengalaman kepemimpinan.
c.
Penugasan (rotasi jabatan) di wilayah dengan
tingkat kompleksitas tinggi untuk memperluas perspektif dan melatih adaptive
capacity. Optimalkan perubahan
dengan mengintegrasikan adaptive leadership dalam sistem karier dan
promosi jabatan.
d.
Sistem penilaian kinerja yang adaptif dengan
penilaian kinerja berbasis outcome dan inovasi serta pemberian
penghargaan terhadap keberanian dalam mengambil inisiatif.
e.
Pembangunan sistem evaluasi berbasis trust
index publik, bukan hanya kinerja administrative.
f.
Penguatan reformasi kultural secara radikal,
bukan gradual, untuk memutus inersia birokrasi dan budaya lama yang selama ini
mengakar kuat.
IMPLIKASI STRATEGIS
Jika kepemimpinan adaptif
berhasil dibangun, maka reformasi organisasi tidak lagi bersifat simbolik atau
sekadar pemenuhan formalitas, melainkan menjadi perubahan yang substantif. Hal
ini ditandai dengan terjadinya pergeseran budaya organisasi dari orientasi
kepatuhan administratif (compliance) menuju orientasi kinerja (performance)
yang berfokus pada hasil dan dampak nyata. Perubahan tersebut pada akhirnya
akan mendorong peningkatan kepercayaan publik secara alami (organik), karena
masyarakat merasakan langsung kualitas pelayanan dan kinerja institusi yang
semakin baik.
PENUTUP
Transformasi Polri di era
VUCA–BANI merupakan suatu keniscayaan yang menuntut perubahan tidak hanya pada
aspek struktural, tetapi juga pada pola kepemimpinan. Kepemimpinan adaptif
berperan sebagai katalisator utama dalam mendorong perubahan organisasi yang
lebih fleksibel, responsif, dan inovatif.
Strategi perubahan organisasi
harus diiringi dengan pembentukan karakter kepemimpinan yang adaptif,
transformatif, dan berintegritas. Dengan demikian, Polri diharapkan mampu
menghadapi kompleksitas tantangan keamanan modern serta meningkatkan
kepercayaan publik melalui pelayanan yang profesional dan presisi
REFERENSI :
·
Heifetz, R. (1994). Leadership Without Easy
Answers
·
Bass, B. M., & Avolio, B. J. (1994). Improving
Organizational Effectiveness through Transformational Leadership
·
Bennis, W. (2009). On Becoming a Leader
·
DL, Chryshnanda, jenderal, Dr. Prof.,M.Si.
(2026). Adaptive Leadership for Operational Leader and Knowledge Management
Integration – Kepemimpinan yang Transformatif
Komentar
Posting Komentar